Nitikan.id, Opini – Mahkota adalah simbol kekuasaan yang telah dikenal sejak peradaban kuno. Dari Firaun di Mesir, Kaisar Romawi, hingga raja-raja eropa, mahkota menjadi penanda supremasi, keagungan, dan hak ilahi atas kepemimpinan. Namun, dalam Islam, kepemimpinan justru lebih ditekankan sebagai amanah ketimbang simbol kebesaran duniawi.
Mahkota bukan sekadar perhiasan, melainkan lambang otoritas yang diakui di berbagai budaya. Di Mesir kuno, Firaun mengenakan pschent, mahkota ganda yang melambangkan persatuan Mesir hulu dan hilir. Di Yunani dan Romawi, mahkota berbentuk diadem atau laurel menjadi simbol kejayaan dan kedewaan. Sementara di eropa abad pertengahan, mahkota raja bertatahkan permata menunjukkan hak ilahi (divine right of kings) yang mengukuhkan posisi mereka sebagai penguasa.
Sejarah mencatat berbagai peristiwa penting yang melibatkan mahkota. Penobatan Kaisar Charlemagne oleh Paus Leo III pada tahun 800 M mengukuhkan kekaisaran Romawi suci. Di Inggris, mahkota Raja Charles I dilebur setelah eksekusinya pada 1649, menandai berakhirnya monarki absolut. Pada 1453, sultan Mehmed II merebut mahkota kekaisaran Bizantium setelah menaklukkan Konstantinopel, menjadikan kesultanan Utsmaniyah sebagai kekuatan besar dunia.
Sepanjang sejarah, banyak peperangan yang terjadi hanya demi satu hal , mahkota. Salah satu konflik terbesar adalah Perang Mawar (1455–1487) di Inggris, di mana dua dinasti, Lancaster dan York, saling berebut mahkota kerajaan. Perang ini berakhir dengan kemenangan Henry VII dari House of Tudor, yang kemudian menyatukan dua dinasti dengan pernikahannya.
Di Prancis, Perang seratus tahun (1337–1453) antara Inggris dan Prancis terjadi akibat perebutan mahkota Prancis. Inggris, di bawah Edward III, mengklaim takhta Prancis berdasarkan garis keturunan, yang akhirnya memicu perang panjang. Konflik ini berakhir dengan kemenangan Prancis, sebagian besar berkat kepemimpinan Jeanne d’Arc yang berhasil menginspirasi rakyat Prancis untuk merebut kembali tanah mereka.
Di Rusia, perebutan mahkota terjadi dalam masa kekacauan (1598–1613) setelah kematian Tsar Feodor I. Tanpa ahli waris yang sah, banyak pihak mengklaim mahkota Rusia, yang berujung pada intervensi Polandia dan Swedia. akhirnya, Dinasti Romanov naik takhta dan memerintah Rusia selama lebih dari tiga abad.
Di dunia Islam, perebutan mahkota juga kerap terjadi, terutama di antara Kesultanan Utsmaniyah, Safawi Persia, dan Mughal India. Salah satu konflik terbesar adalah perebutan mahkota antara Aurangzeb dan saudara-saudaranya dalam Kekaisaran Mughal pada abad ke-17. Aurangzeb berhasil menyingkirkan saudara-saudaranya dan naik takhta setelah perang saudara yang brutal.
Bahkan hingga zaman modern, mahkota tetap menjadi sumber konflik. Perang saudara di nrgara Yaman saat ini sebagian besar berkaitan dengan klaim atas kepemimpinan tradisional yang melibatkan kelompok-kelompok yang mengklaim sebagai pewaris sah pemerintahan.
Mahkota bukan sekadar benda mewah, tetapi menyimpan filosofi mendalam. Dalam banyak budaya, mahkota melambangkan keagungan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab besar. Ada ungkapan klasik: “Heavy is the head that wears the crown”, yang berarti semakin tinggi kekuasaan seseorang, semakin berat pula bebannya.
Namun, dalam Islam, kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari mahkotanya, tetapi dari keadilan dan amanah yang ia emban. Inilah yang membedakan perspektif Islam dengan sistem kerajaan di berbagai peradaban lainnya.
Berbeda dengan tradisi kerajaan duniawi, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memakai mahkota. sebagai pemimpin, beliau justru memilih kesederhanaan dengan mengenakan sorban atau penutup kepala biasa. Ini menjadi pesan tersirat bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan tentang kemegahan, melainkan tentang pelayanan kepada umat.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa para penghafal Al-Qur’an dan orang tua mereka akan diberi mahkota di akhirat yang lebih bercahaya daripada matahari (HR. Abu Dawud & Ahmad). Ini menunjukkan bahwa mahkota sejati bukanlah yang terbuat dari emas dan berlian, melainkan mahkota kemuliaan yang hanya diberikan kepada mereka yang memiliki ilmu dan ketakwaan.
Lebih jauh, Nabi Muhammad sering mengingatkan para pemimpin untuk menjauhi kesombongan dan lebih mengutamakan keadilan. Mahkota bisa menjadi simbol kebesaran, tetapi tanpa kebijaksanaan dan tanggung jawab, ia tak lebih dari beban yang menjerumuskan pemakainya ke dalam kesewenang-wenangan.
Meskipun banyak negara telah meninggalkan sistem monarki, mahkota tetap menjadi simbol yang diperebutkan. Di Inggris, mahkota Kerajaan Britania raya tetap menjadi simbol penting, meskipun kekuasaan politik raja dan ratu semakin berkurang. Saat Ratu Elizabeth II wafat pada 2022, suksesi Raja Charles III menjadi sorotan dunia, menunjukkan bahwa mahkota masih memiliki daya tarik tersendiri.
Di negara-negara lain, mahkota tidak lagi berbentuk fisik, tetapi dalam bentuk kekuasaan politik. Perebutan kekuasaan antara pemimpin dunia saat ini, baik melalui kudeta maupun pemilu, sering kali menunjukkan bahwa meskipun bentuknya berubah, semangat perebutan “mahkota” tetap ada.
Sejarah telah menunjukkan bahwa mahkota adalah simbol kekuasaan yang dihormati di berbagai peradaban. Namun, Islam menawarkan perspektif berbeda, kepemimpinan bukan tentang perhiasan duniawi, melainkan tentang amanah yang harus dijalankan dengan keadilan dan rendah hati. Nabi Muhammad tidak memakai mahkota, karena bagi beliau, mahkota sejati bukanlah yang tersemat di kepala, melainkan yang tertanam dalam jiwa. Berupa ilmu, ketakwaan, dan tanggung jawab terhadap umat.
Dari zaman kerajaan hingga era modern, mahkota tetap menjadi simbol yang dicari dan diperebutkan. Namun, seperti yang diajarkan Islam, bukan mahkota dunia yang seharusnya kita kejar, melainkan mahkota kemuliaan di akhirat kelak.
Malang , 20 Maret 2025
Lanang mujahidin
Pegiat Rumah baca Kanjuruhan
Kepanjen

