Nitikan.Id, Opini – Salat adalah pilar utama dalam Islam, tetapi apakah kita benar-benar memahami maknanya? Lima cendekiawan Indonesia berikut ini memiliki pandangan unik tentang salat, yang bukan sekadar ritual harian, tetapi juga jalan hidup yang membawa perubahan nyata.
1. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus): Salat Harus Berbuah Akhlak Mulia
KH. Ahmad Mustofa Bisri, atau Gus Mus, menekankan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, tetapi harus berdampak pada perilaku.
“Kalau salatmu benar, tapi masih korupsi atau menyakiti orang lain, berarti ada yang salah dengan cara kamu salat.”
Menurut Gus Mus, salat adalah dialog langsung antara manusia dengan Allah. Jika seseorang rajin salat tetapi tetap berbuat zalim, berarti ia belum benar-benar memahami hakikatnya.
Pesan utama Gus Mus:
- Salat harus menjadikan seseorang lebih baik, bukan sekadar rutinitas.
- Jangan hanya “Aholat” (sekadar menjalankan gerakan tanpa penghayatan).
- Salat yang benar membawa ketenangan dan kedekatan dengan Allah.
2. KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha): Salat adalah Hadiah, Bukan Beban
Gus Baha, dengan gaya ceramahnya yang jenaka namun dalam, melihat salat sebagai hadiah dari Allah, bukan beban.
“Jangan tinggalkan salat, meskipun kamu banyak dosa. Justru dengan salat, Allah akan mudahkan jalanmu untuk berubah.”
Menurutnya, kesempurnaan dalam salat bukanlah syarat utama. Yang penting adalah tetap menjalankannya, karena khusyuk akan datang seiring waktu.
Makna salat menurut Gus Baha:
- Salat adalah pengingat agar manusia tidak jauh dari Allah.
- Tidak harus selalu khusyuk, yang penting tetap dilakukan.
- Salat adalah bentuk syukur dan sarana mendapatkan hidayah.
3. Ustaz Adi Hidayat (UAH): Salat sebagai Solusi Hidup
UAH sering menekankan bahwa salat adalah fondasi kehidupan dan solusi atas berbagai masalah.
“Jika hidupmu terasa berat, jangan cari solusi ke mana-mana dulu. Perbaiki dulu salatmu.”
Menurutnya, Al-Qur’an jelas menyebutkan bahwa salat adalah kunci pertolongan Allah (QS. Al-Baqarah: 45). Salat yang dilakukan dengan benar akan mendatangkan ketenangan, kemudahan rezeki, dan menjauhkan seseorang dari perbuatan buruk.
Pelajaran dari UAH tentang salat:
- Salat adalah komunikasi langsung dengan Allah.
- Salat yang benar membawa pertolongan dan keberkahan.
- Salat harus ditegakkan (dihayati), bukan sekadar dikerjakan.
4. Dr. Fahruddin Faiz: Salat sebagai Latihan Kesadaran Diri
Sebagai filsuf Islam, Dr. Fahruddin Faiz melihat salat sebagai latihan kesadaran diri (self-awareness).
“Saat sujud, kita berada di posisi paling rendah, tetapi justru paling dekat dengan Allah.”
Salat menyatukan aspek fisik, mental, dan spiritual. Jika dilakukan dengan khusyuk, salat bukan hanya ibadah, tetapi juga terapi mental yang membawa ketenangan.
Makna salat menurut Dr. Fahruddin Faiz:
- Salat adalah dialog eksistensial antara manusia dan Tuhan.
- Salat melatih kerendahan hati dan kesadaran spiritual.
- Salat yang benar membawa kedamaian batin.
5. Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): Salat sebagai Kesadaran Spiritual dan Sosial
Cak Nun memandang salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga cara membangun kesadaran spiritual dan sosial. Ia mengkritik mereka yang menjadikan salat sebagai formalitas tanpa penghayatan.
“Jika salatmu benar, maka hidupmu juga akan benar.”
Menurutnya, salat harus membawa perubahan nyata dalam kehidupan, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
Pesan penting dari Cak Nun:
- Salat bukan sekadar gerakan, tetapi kesadaran.
- Salat yang benar membangun karakter dan hubungan sosial yang baik.
- Jika sebuah negara berlandaskan nilai-nilai salat, maka akan menjadi negara yang adil dan bermartabat.
Kesimpulan
Kelima cendekiawan ini sepakat bahwa salat bukan sekadar ritual, tetapi harus membawa perubahan dalam diri dan kehidupan sosial. Jika seseorang masih berbuat zalim, merasa tertekan, atau tidak menemukan ketenangan meskipun rajin salat, berarti ada yang perlu diperbaiki dalam cara ia melaksanakan ibadah tersebut.
Salat yang benar adalah yang menjadikan seseorang lebih jujur, lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih dekat dengan Allah. Maka, jangan hanya melaksanakan salat, tetapi benar-benar mendirikan salat dalam kehidupan kita.
Subang, 12 Maret 2025
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara, Pamanukan-Subang

