Nitikan.id – Alkisah ada seorang santri yang menuntut ilmu di suatu pondok pesantren..
Setelah di sana 3 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada sang Kyai.
“Kyai, saya mau pulang saja”.
“Lho, kenapa?” tanya Kyai.
“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati, tidak pantas saya menuntut ilmu, saya minta izin mau pulang”.
Kyai menjawab: “Jangan dulu, sabar”.
“Sudah Kyai saya sudah tiga tahun bersabar, sudah tidak kuat, lebih baik saya pulang saja”.
Lalu beliau berkata “Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu”.
Santri itu menjawab “Sudah Kyai saya menghafalkan setengah mati, tidak hafal-hafal.”
Kyai kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu.
Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 7 tahun.
Kemudian Kyai menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat.
Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
“Ini surat siapa?” tanya Kyai
“Ohh, itu surat ibu saya.”
“Bacalah!”
Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai.
Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.
“Sudah Kyai.”
“Berapa kali?” tanya beliau.
“Satu kali ya Kyai.”
“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?” Kata Kyai.
“Ibu saya berkata saya disuruh mencari ilmu yang bener, bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Kata santri itu.
Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal, sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Kyai dengan pandangan serius.
Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
Kyai akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan:
“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu, coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad Saw dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal.”
Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta.
Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu, sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
☆☆☆☆☆

