Puasa itu unik. Setiap tahun kita bangun lebih pagi dari biasanya, makan lebih banyak dari biasanya, lalu siangnya menahan lapar sambil berharap waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Secara logika memang aneh: bangun jam 3 pagi untuk makan sebanyak mungkin, lalu sepanjang hari berpura‑pura kuat sambil menatap jam tiap lima menit.
Namun, di balik ritual yang tampak sederhana ini, puasa sebenarnya seperti tombol “reset” bagi manusia. Saat perut kosong, kita mulai sadar bahwa hidup tidak selalu harus penuh. Bahwa rasa lapar bukan musuh, melainkan pengingat bahwa selama ini kita terlalu sering makan tanpa benar‑benar merasa lapar. Baik lapar makanan, lapar pujian, maupun lapar pengakuan.
Masalahnya, yang paling sulit ditahan saat puasa bukanlah lapar atau haus. Yang paling sulit ditahan justru komentar pedas di grup WhatsApp keluarga, godaan untuk membalas status mantan, dan keinginan untuk merasa paling benar saat debat takjil gorengan vs kolak.
Puasa mengajarkan kita menahan diri. Menahan amarah. Menahan ego. Menahan keinginan untuk membunyikan klakson lima detik penuh hanya karena motor di depan tidak langsung jalan saat lampu hijau.
Kalau dipikir‑pikir, dunia ini akan jauh lebih damai jika semua orang menahan diri seperti saat puasa. Bayangkan media sosial tanpa komentar kasar. Bayangkan rapat tanpa saling potong pembicaraan. Bayangkan jalan raya tanpa klakson simfoni.
Tapi puasa tidak berhenti pada menahan diri. Puasa membuka pintu empati.
Saat kita lapar, kita mendadak sadar bahwa tidak semua orang punya pilihan untuk makan saat magrib. Saat kita haus, kita ingat bahwa ada orang yang setiap hari kekurangan air bersih. Dari sini, hati menjadi lebih lembut. Kita jadi lebih mudah berbagi. Bahkan yang biasanya pelit parkir saja bisa tiba‑tiba jadi dermawan saat Ramadan.
Nah, jika rakyat memaknai puasa sedalam ini, sebenarnya negara mendapat bonus besar: masyarakat menjadi lebih sabar, lebih peduli, dan tidak gampang tersulut emosi. Demo bisa berubah jadi diskusi. Adu argumen bisa berubah jadi musyawarah. Netizen bisa berubah jadi… ya minimal tidak sekejam biasanya.
Bagi pemimpin yang adil, rakyat seperti ini adalah berkah. Negara jadi stabil. Konflik menurun. Orang lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari musuh.
Namun ada efek samping yang mungkin membuat pemimpin kurang nyaman: rakyat yang sadar diri biasanya juga sadar keadilan. Mereka tidak mudah marah, tapi juga tidak mudah dibohongi. Mereka sabar, tapi bukan berarti bisa disuruh sabar terus setiap harga naik.
Di sinilah pertanyaan penting muncul: seperti apa pemimpin yang adil?
Pemimpin adil bukan yang paling sering muncul di baliho. Bukan yang fotonya paling besar di pinggir jalan. Dan bukan yang paling fasih mengucapkan “demi rakyat” di depan kamera.
Pemimpin yang adil adalah yang membuat rakyat merasa hukum tidak punya anak emas. Yang tidak menganggap kritik sebagai ancaman. Yang ingat bahwa kursi jabatan bukan singgasana, melainkan kursi kerja dan kadang kursi panas.
Tanda pemimpin adil itu sederhana: rakyat merasa aman, bukan takut. Harga kebutuhan tidak membuat jantung ikut puasa. Pelayanan publik tidak terasa seperti ujian kesabaran tingkat dewa. Dan orang kecil tidak merasa sendirian ketika menghadapi masalah.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Jawabannya, seperti sinetron panjang: ada kemajuan, ada drama, ada harapan, ada juga plot twist yang kadang membuat penonton ingin pindah channel.
Pembangunan berjalan. Bantuan sosial ada. Layanan publik terus diperbaiki. Banyak orang merasakan perubahan nyata.
Namun di sisi lain, kesenjangan masih terasa, korupsi masih terdengar, dan hukum kadang dianggap tajam ke bawah, tumpul ke atas. Rakyat pun berada di posisi klasik: bersyukur sekaligus mengeluh dalam napas yang sama.
Artinya, keadilan di negeri ini masih proses. Belum selesai. Masih seperti jalan yang diperbaiki: sudah diaspal, tapi tiba‑tiba ada lubang baru di depan.
Di tengah semua itu, puasa memberi pelajaran penting: perubahan besar selalu dimulai dari pengendalian diri. Dari kejujuran kecil. Dari empati sederhana. Dari keberanian untuk adil, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Puasa mengajarkan rakyat untuk tidak mudah membenci, tetapi juga tidak kehilangan keberanian moral. Dan puasa mengingatkan pemimpin bahwa kekuasaan bukan tentang ditaati, melainkan tentang dipercaya.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dari puasa bukanlah berapa jam kita menahan lapar, tetapi apakah setelah Ramadan kita masih menjadi manusia yang lebih sabar… atau kembali marah hanya karena sendok jatuh saat sahur.
Dan mungkin, perubahan bangsa tidak dimulai dari pidato besar atau slogan heroik.
Mungkin ia dimulai dari hal sederhana.menahan ego,mengurangi serakah,dan berhenti merasa paling benar. Setidaknya sampai waktu berbuka.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

