Ada lagu rock yang kalau diputar volumenya keras, tapi yang kena justru batin. Judulnya Neraka Jahanam di populerin oleh Boomerang. Dari judul saja sudah jelas kalo ini lagu bukan buat nemenin nyuci motor atau nunggu gorengan mateng. Ini lagu yang kalau didengar baik-baik, rasanya seperti ditegur tanpa dipanggil nama.
Liriknya sederhana, tapi galak. Ceritanya juga bukan barang baru yakni setan membujuk, Adam-Hawa tergoda, manusia kena getahnya. Tapi justru karena ceritanya terlalu familiar, manusia sering lupa maknanya. Lagu ini seperti mengingatkan ulang kisah lama yang sering kita anggap dongeng pembuka kitab, padahal dampaknya masih kita tanggung sampai hari ini: hidup capek, hati ribet, dan pikiran tidak pernah benar-benar sampai.
Dari lagu itu kita jadi sadar satu hal penting yang jarang disadari bahwa manusia itu aslinya penduduk surga. Bukan warga asli bumi. Bumi ini bukan kampung halaman, cuma tempat pindahan. Lebih mirip rumah kontrakan tanpa papan pengumuman kapan masa sewanya habis. Yang jelas, suatu saat harus angkat kaki.
Adam dan Hawa dulu hidup tenang. Tidak ada cicilan, tidak ada lembur, tidak ada istilah “demi karier”. Makan tinggal petik, hidup tinggal nikmati. Lalu datang satu makhluk yang sejak dulu kariernya konsisten yakni membujuk. Tidak memaksa, tidak mengancam, cuma merayu. Seperti iklan yang bilang, “Cuma lihat-lihat kok.” Satu keputusan impulsif, satu buah, dan manusia pun harus pindah alam. Dari surga ke bumi. Dari hidup santai ke hidup penuh tanggung jawab.
Yang menarik, Neraka Jahanam tidak memposisikan setan sebagai makhluk maha kuasa. Setan di lagu ini cuma pendusta. Tukang rayu. Tukang bisik. Ia menang bukan karena kuat, tapi karena manusia lengah. Artinya jelas yang mana kejatuhan manusia bukan karena diseret, tapi karena melangkah sendiri. Dari sini saja lagu ini sudah seperti menampar lembut sambil bilang, “Jangan kebanyakan alasan.”
Sejak mendarat di bumi, manusia membawa satu penyakit aneh yaitu tidak pernah merasa benar-benar sampai. Sudah makan enak, masih ingin nambah. Sudah punya jabatan, masih ingin naik. Sudah viral, masih ingin divalidasi. Rupanya ada memori lama yang ikut terbawa: ingatan samar tentang rumah asal. Tentang surga. Itulah sebabnya manusia selalu gelisah. Seperti orang rantau yang sudah sukses, tapi tiap malam masih kangen masakan rumah.
Di bumi, manusia lalu dibagi peran. Ada yang jadi pejabat negara, ada yang jadi pengusaha. Ada yang dagang kecil-kecilan, ada yang jadi buruh, petani, guru, mahasiswa, atau profesi paling jujur yakni belum tahu mau jadi apa. Semua peran ini sah. Tidak ada peran hina. Yang sering bermasalah justru manusianya.
Masalah muncul ketika peran dianggap identitas sejati. Pejabat merasa dirinya lebih penting dari rakyat. Orang kaya merasa hidupnya lebih bernilai. Yang pernah sekolah merasa paling benar. Padahal semua itu cuma kostum panggung. Dipakai sebentar, lalu dilepas. Tidak ada satu pun kostum yang ikut dibawa pulang.
Di panggung bumi ini, yang dinilai bukan perannya apa, tapi bagaimana memainkannya. Kekuasaan diuji dengan amanah. Kekayaan diuji dengan syukur. Kemiskinan diuji dengan sabar. Ilmu diuji dengan tanggung jawab. Hidup biasa-biasa saja diuji dengan konsistensi, yang sering kali justru paling berat karena tidak ada tepuk tangan.
Dalam kerangka ini, iblis bukan sutradara. Ia tidak menulis naskah hidup manusia. Ia cuma bisik-bisik di pinggir panggung, menyarankan improvisasi yang kelihatannya enak tapi ujungnya jebakan. Dan celakanya, manusia sering mengira bisikan itu suara hati.
Supaya manusia tidak tersesat, sebenarnya tidak dilepas begitu saja. Sudah disertakan buku panduan. Manual book kehidupan. Namanya Al-Qur’an. Isinya bukan cuma cara cepat kaya, bukan tips naik jabatan doang, tapi prinsip dasar agar manusia tetap manusia yang jujur, adil, amanah, tahu batas.
Masalah klasik manusia adalah malas baca petunjuk. Seperti beli barang elektronik atau motor, manualnya dibuang, lalu marah sendiri karena tidak tahu cara pakainya. Hidup juga begitu. Sudah ada panduan, tapi lebih percaya bisikan.
Untungnya, panduan ini tidak cuma teori. Ada contoh hidupnya. Namanya Nabi Muhammad. Beliau pernah menjalani hampir semua peran penting dalam hidup manusia. Pernah jadi penggembala yang kerja sunyi, upah kecil, tapi penuh tanggung jawab. Pernah jadi pedagang yang berurusan dengan untung-rugi dan kepercayaan. Pernah jadi pemimpin yang mengelola manusia dengan segala dramanya. Pernah jadi kepala negara dan panglima perang di situasi paling keras sekalipun, moral tetap dijaga.
Artinya sederhana, perannya boleh berubah namun arahnya jangan. Tidak ada alasan bilang, “Kalau sudah di posisi ini, susah lurus.” Contohnya sudah ada. Tinggal mau meniru atau tidak.
Di titik ini, Neraka Jahanam terasa seperti sirene peringatan. Lagu itu tidak sedang mengutuk setan semata, tapi memperingatkan manusia agar tidak terlalu percaya bisikan dan tidak terlalu bangga pada peran. Karena setan boleh menggoda, tapi yang menentukan akhir cerita tetap manusia.
Sayangnya, manusia modern sering terlalu betah di ruang tunggu. Sibuk menghias kursi, memoles citra, memajang titel. Lupa kalau ini cuma transit. Seperti orang di stasiun yang sibuk belanja oleh-oleh sampai ketinggalan kereta.
Padahal cepat atau lambat, hidup akan menutup tirainya. Lampu panggung dimatikan. Status dihapus. Jabatan dicabut. Yang tersisa bukan CV, tapi arah hidup. Yang ditanya bukan, “Kamu siapa di dunia?” tapi, “Kamu ingat jalan pulang atau tidak?”
Karena bumi ini bukan kampung halaman.Cuma persinggahan.
Dan hidup, sejak awal adalah perjalanan panjang untuk ingat pulang ke kampung halaman sejati. Surga.
Mochammad RF
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan.
