Ribuan tahun lalu, di bawah terik matahari Jazirah Arab, manusia bersujud di hadapan batu putih bernama Latta dan memuja pohon kurma yang disebut Uzza. Dalam logika masyarakat saat itu, benda-benda ini bukanlah Tuhan pencipta langit dan bumi, melainkan perantara. Mereka diyakini mampu memperpendek jarak antara doa manusia dan terkabulnya harapan. Patung dan pohon itu dianggap punya akses khusus ke langit.
Hari ini, patung-patung itu memang telah hancur menjadi debu sejarah. Namun jangan terburu-buru merasa lebih maju. Karena benih logika penyembahan itu ternyata belum benar-benar mati. Ia hanya berganti rupa. Dari kuil kuno, ia bermigrasi ke ruang rapat, lorong kantor, dan meja birokrasi modern. Tahun boleh 2026, tapi cara berpikirnya masih zaman Latta–Uzza.
Di dunia kerja dan kehidupan sosial kita, logika ini menjelma menjadi budaya penjilat. Jika dibedah secara jujur, mentalitas penjilat adalah replika paling mutakhir dari penyembah berhala masa lalu. Bedanya hanya objeknya. Dulu batu dan pohon, sekarang jabatan, relasi, dan manusia yang kebetulan sedang berkuasa.
Seorang penjilat sejatinya tidak pernah benar-benar mengagungkan sosok yang ia puji. Ia hanya meyakini satu hal: bahwa hidup, karier, dan rezekinya bergantung pada manusia tertentu. Maka ia membangun hubungan bukan berdasarkan kerja dan nilai, melainkan berdasarkan persembahan.
Jika dulu sesajen diletakkan di kaki patung, hari ini sesajen itu berupa pujian palsu, laporan yang dipoles berlebihan, data yang diseleksi agar terlihat indah, serta tawa paling cepat ketika atasan melontarkan candaan garing. Ia mungkin bukan yang paling kompeten di ruangan itu, tapi hampir selalu yang paling rajin mengangguk.
Akar perilaku ini tidak rumit: ketakutan dan rasa tidak aman. Seorang penjilat sejatinya tidak percaya pada kapasitas dirinya sendiri. Ia merasa kemampuan, kerja keras, dan integritas tidak cukup untuk menjamin masa depan. Maka ia mencari syafaat. Ia butuh figur yang dianggap mampu “menitipkan namanya ke langit kekuasaan”.
Dari sini lahir pola klasik yang sangat tua namun selalu relevan: punch down, lick up. Ke atas ia menjilat, ke bawah ia menekan. Bukan karena berani, tapi karena takut. Menekan yang lemah adalah cara termurah untuk merasa berkuasa, sementara menjilat yang kuat adalah jalan pintas untuk merasa aman.
Masalahnya, sejarah selalu konsisten mengajarkan satu hal: setiap berhala pasti akan tumbang.
Di masa Nabi Ibrahim, berhala dihancurkan dengan kapak untuk menunjukkan kelemahan benda mati. Di era modern, kapak itu bernama perubahan zaman. Bisa berupa rotasi jabatan, pergantian rezim, restrukturisasi organisasi, atau skandal yang tiba-tiba menjatuhkan nama besar.
Di titik inilah tragedi mental seorang penjilat dimulai. Ketika “berhala” tempat ia menggantungkan hidup jatuh, dunia si penjilat ikut runtuh. Ia panik, paranoid, dan sibuk membaca ulang peta kekuasaan. Siapa naik? Siapa turun? Kepada siapa ia harus segera beralih puja?
Biasanya, mereka yang paling lantang memuji kemarin, akan menjadi yang paling keras mencaci hari ini. Ganti kulit dilakukan secepat mungkin. Mantan tuan dihujat bukan karena prinsip, melainkan demi mencari inang baru. Beginilah siklus Latta–Uzza zaman now bekerja: berhala boleh berganti, mentalnya tetap sama.
Lalu, bagaimana cara keluar dari lingkaran setan ini?
Jawabannya tidak romantis, tapi realistis: bangun Expertise Power. Kekuatan keahlian. Ketika seseorang memiliki kompetensi yang nyata, relevan, dan teruji, ia tidak perlu menggantungkan hidup pada belas kasihan manusia. Keahlian membuat seseorang punya posisi tawar, bukan posisi merangkak.
Selain itu, kita perlu menggeser pola komunikasi dari budaya ABS (Asal Bapak Senang) menuju Radical Candor: jujur, lugas, dan kritis demi kemajuan bersama. Bukan kritik sok berani, tapi keberanian yang lahir dari niat memperbaiki, bukan menyenangkan.
Lebih dalam dari semua itu, kita butuh apa yang bisa disebut sebagai Tauhid Profesional. Sebuah keyakinan mendasar bahwa rezeki dan nasib tidak pernah benar-benar berada di dalam laci meja atasan. Jabatan hanyalah perantara administratif, bukan sumber kehidupan. Ketika keyakinan ini kokoh, seseorang tidak mudah tergoda untuk menjual harga diri demi rasa aman semu.
Menjadi profesional yang merdeka memang sering kali terasa lebih sepi. Jalannya lebih lambat, minim tepuk tangan, dan kadang membuat kita tampak “tidak pintar bersosialisasi”. Namun justru di situlah fondasi karakter dibangun. Integritas adalah aset jangka panjang yang nilainya baru terasa ketika badai datang.
Manusia yang merdeka adalah mereka yang berdiri di atas kakinya sendiri. Ketika berhala apa pun tumbang, mereka tidak ikut ambruk. Karena akarnya tidak menancap pada manusia, melainkan pada nilai.
Pada akhirnya, tidak ada satu pun posisi di dunia ini yang layak dibeli dengan harga diri. Sebab kemuliaan yang diperoleh dari hasil menjilat hanyalah fatamorgana. Ia tampak menjanjikan dari jauh, tetapi selalu gagal memuaskan dahaga jiwa akan kehormatan yang sejati.
Latta dan Uzza boleh telah lama runtuh. Tapi selama manusia masih menggantungkan hidup pada sesama manusia, selama itu pula Latta–Uzza akan terus lahir dalam versi yang lebih rapi, lebih modern, dan lebih berbahaya.
Mochammad RF
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

