Ada satu hal yang selalu menarik dari republik ini yakni kita jarang kekurangan peristiwa politik, tetapi sering kekurangan percakapan yang jujur. Di tengah suasana publik yang terasa tenang bahkan sebagian menyebutnya stabil, sebagian lain menyebutnya apatis, tiba-tiba muncul seorang mahasiswa yang melontarkan kritik keras ke ruang kekuasaan. Kalimatnya menyebar cepat, dikutip di mana-mana, diperdebatkan, disanggah, dan tentu saja menjadi viral.
Nama yang mendadak memenuhi linimasa itu adalah Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada. Pernyataannya yang tajam memicu respons berlapis: pejabat negara menanggapi, politisi berkomentar, warganet berdebat, dan media menyoroti latar belakang serta perjalanan intelektualnya. Di tengah riuh itu, kabar ancaman dan tekanan yang ia alami turut memunculkan simpati sekaligus keprihatinan publik.
Seperti yang kerap terjadi, ketika kritik terasa terlalu keras, perhatian publik tidak hanya tertuju pada substansi kritik, tetapi juga pada latar belakang pengkritiknya. Muncullah pembahasan tentang jalur pendidikan kesetaraan yang pernah ditempuhnya, masa belajar di PKBM Omah Dongeng Marwah, hingga perjalanannya menjadi mahasiswa filsafat. Seolah-olah keberanian berpikir harus terlebih dahulu divalidasi oleh riwayat sekolah formal.
Padahal, yang lebih menarik bukanlah jalur pendidikannya, melainkan ekosistem belajar yang membentuk cara berpikirnya.
Pendidikan alternatif sering dipandang sebelah mata. Tidak berseragam rapi, tidak berbaris setiap pagi, dan tidak dibayangi ulangan harian. Namun justru di ruang-ruang yang tampak tidak resmi itu, anak belajar menjadi manusia utuh. Mereka tidak diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi, melainkan individu yang memiliki rasa ingin tahu alami.
Di lingkungan belajar seperti Omah Dongeng Marwah di Kudus,Jawa tengah. Anak diajak berdialog, bukan didikte. Mereka membuat karya, bukan sekadar mengerjakan soal. Mereka belajar menyampaikan gagasan, bukan sekadar menghafal definisi. Ketika seorang anak tumbuh dalam ruang yang menghargai suaranya, ia tidak canggung ketika kelak suaranya hadir di ruang publik.
Metode belajar berbasis pengalaman memberi dampak yang signifikan. Anak diajak melihat realitas sosial, memahami kehidupan masyarakat, dan merasakan ketimpangan secara langsung. Empati lahir bukan dari teori, melainkan dari perjumpaan nyata. Hal inilah yang sering hilang dari pendidikan yang terlalu berfokus pada angka dan nilai.
Budaya dialog menjadi fondasi penting. Dalam diskusi, anak belajar bahwa kebenaran bukan monopoli pengajar. Argumen diuji, sudut pandang dipertukarkan, dan perbedaan pendapat tidak dianggap sebagai ancaman. Dari proses ini lahir kemampuan bernalar dan keberanian menyatakan posisi.
Ketika Tiyo berbicara di forum publik atau podcast, yang terlihat bukan sekadar pernyataan provokatif, melainkan struktur berpikir yang terlatih: sistematis, argumentatif, dan menggugah.
Ekspresi kreatif juga menjadi jalan berpikir. Dongeng, tulisan, teater, dan produksi media bukan sekadar aktivitas seni, tetapi sarana memahami realitas. Kreativitas melatih sensitivitas sosial sekaligus kemampuan menyampaikan gagasan kompleks secara sederhana. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyampaikan ide dengan jernih menjadi kekuatan tersendiri.
Lingkungan belajar alternatif juga kerap menanamkan nilai keberpihakan sosial. Anak diajak peduli pada kelompok rentan, memahami makna keadilan, dan menyadari tanggung jawab sebagai warga masyarakat. Nilai-nilai ini tidak diajarkan sebagai slogan, melainkan dipraktikkan dalam keseharian. Ketika seseorang menyuarakan isu pendidikan, kemiskinan, atau ketidakadilan, ia tidak sekadar mengutip data, tetapi berbicara dari kesadaran moral.
Tentu saja, kemunculan figur mahasiswa kritis selalu memunculkan respons keras. Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi sering kali merasa tidak nyaman ketika kritik disampaikan dengan nada yang tegas. Ketika kritik terasa menohok, perhatian publik mudah bergeser: dari isu ke personal, dari argumen ke latar belakang.
Namun sejarah menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa kerap lahir dari kegelisahan moral. Kampus bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial. Tradisi intelektual tidak pernah sepenuhnya netral; ia selalu bersentuhan dengan keberpihakan pada nilai kemanusiaan dan keadilan.
Sebagian pengamat melihat kemunculan figur seperti Tiyo sebagai tanda gairah baru dalam pergerakan mahasiswa. Setelah bertahun-tahun dianggap meredup, suara mahasiswa kembali terdengar lantang dalam diskursus publik. Mungkin momentum ini tidak berlangsung lama karena masa jabatan ketua BEM hanya satu tahun, namun gebrakan semacam ini cukup untuk mengingatkan bahwa kampus masih memiliki nurani sosial.
Fenomena ini juga mengingatkan bahwa kualitas kepemimpinan masa depan tidak ditentukan semata oleh prestasi akademik. Dunia berubah terlalu cepat untuk dihadapi dengan hafalan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan berpikir kritis, empati sosial, dan keberanian moral.
Pendidikan alternatif bukanlah solusi tunggal bagi semua persoalan, tetapi ia menawarkan sesuatu yang sering terlewat yaitu ruang untuk berpikir, kebebasan untuk bertanya, dan kesempatan memahami realitas secara langsung. Ia tidak selalu menggantikan sekolah formal, tetapi melengkapi makna pendidikan itu sendiri.
Harapan ke depan tentu tidak bertumpu pada satu figur. Gerakan yang sehat tidak bergantung pada individu, melainkan pada tradisi berpikir kritis yang terus diwariskan. Kampus perlu terus melahirkan generasi yang berani bertanya, terbuka terhadap perbedaan, dan tidak takut menyuarakan kepedulian sosial.
Jika universitas mampu menjaga tradisi intelektual yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan, maka pendidikan telah menjalankan fungsi terdalamnya yakni menumbuhkan manusia merdeka yang berpikir jernih, berempati, dan bertanggung jawab.
Dalam republik yang sering lebih riuh daripada reflektif, menyampaikan kebenaran dengan cara yang jujur tetap menjadi tindakan yang paling bermakna.
Nur Izza Wahidiyah
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

