Awalnya cuma bercanda. Katanya ibadah terpanjang itu bukan nikah. Bukan puasa. Bukan juga tarawih 23 rakaat yang lutut mulai negosiasi di rakaat ke-17.
Tapi jadi WNI.
Kita tertawa. Lalu diam sebentar. Lalu mikir, “loh… iya juga ya.”
Nikah bisa cerai. Puasa ada jedanya. Salat selesai dalam hitungan menit. Tapi jadi warga negara? Dari lahir sampai wafat, statusnya nempel terus. Bahkan sebelum kita bisa milih jurusan kuliah, negara sudah bilang: “Selamat, kamu resmi ikut paket kehidupan republik.”
Dan seperti kebanyakan orang Indonesia, kita ikut saja tanpa membaca syarat dan ketentuan.
Menjadi WNI itu paket lengkap. Ada rasa bangga waktu dengar lagu kebangsaan di stadion. Ada rasa pening waktu diminta fotokopi KTP padahal datanya sudah digital. Ada haru tiap 17 Agustus. Ada juga emosi tiap lihat berita korupsi.
Cinta dan migran datang bersamaan.
Makanya ketika muncul polemik penerima beasiswa negara yang dianggap kurang menghargai kewarganegaraan, publik langsung panas seperti wajan tanpa minyak. Soalnya beasiswa seperti LPDP itu bukan uang jatuh dari langit. Itu uang rakyat. Uang dari orang-orang yang mungkin paspornya belum pernah dicap, tapi pajaknya rajin dipotong.
Negara bilang:“Pergilah belajar setinggi mungkin.”
Rakyat menambahkan catatan kaki:“Pulangnya jangan lupa arah.”
Di sinilah drama dimulai.
Karena manusia punya dorongan aneh yakni ingin maju, ingin melampaui batas, ingin merasakan musim dingin tanpa harus buka freezer. Itu wajar. Hidup memang memanggil kita untuk berkembang.Masalahnya, bertumbuh kadang bikin kita merasa jadi manusia edisi internasional.
Awalnya masih rindu sambal. Lama-lama debat kopi single origin.Awalnya kangen nasi hangat. Lama-lama bilang karbo itu musuh.Awalnya cinta tanah air. Lama-lama update LinkedIn: global citizen.
Padahal kalau masuk angin, tetap cari tolak angin.
Tinggal jauh dari rumah membuat nasionalisme berubah bentuk. Dulu gagah saat upacara bendera. Setelah merantau, ia berubah jadi rindu suara azan subuh, tukang sayur pagi hari, dan tetangga yang knalpot motornya lebih vokal dari penyanyi dangdut.
Kita sadar: jadi Indonesia itu bukan cuma alamat, tapi kenangan.
Nasionalisme bukan pagar yang melarang kita pergi. Ia kompas. Silakan ke mana saja, asal tidak hilang arah dan tidak pura-pura lupa jalan pulang.
Namun globalisasi membuat segalanya cair. Orang bekerja lintas negara. Karier tidak lagi kenal batas peta. Lalu muncul pertanyaan klasik: apakah cinta tanah air harus dibuktikan dengan pulang fisik? Atau cukup dengan kontribusi dari jauh?
Jawabannya tidak sesederhana status WhatsApp.
Seorang peneliti yang mengembangkan vaksin penyakit tropis dari luar negeri tetap memberi manfaat bagi Indonesia. Insinyur yang merancang teknologi energi bersih di luar negeri tetap membantu masa depan dunia yang juga kita tinggali. Kontribusi tidak selalu beralamat lokal.
Tapi satu hal jelas: jika pendidikan dibiayai negara, ada kontrak moral di situ. Bukan cuma tanda tangan di atas materai, tetapi kesadaran bahwa ada pedagang gorengan, sopir angkot, dan pegawai kecil yang ikut menyumbang lewat pajak.
Jadi wajar kalau publik berharap: “minimal jangan menghina rumah sendiri, meskipun atapnya bocor.”
Karena menjadi WNI itu memang ibadah panjang.
Ibadah dalam arti menjalani tanggung jawab dengan niat baik bahkan ketika server administrasi sedang maintenance dan petugas bilang, “silakan kembali besok.”
Bukan berarti tidak boleh mengkritik. Warga negara yang baik justru cerewet kalau ada yang salah. Tapi beda antara kritik dan meremehkan. Kritik itu tanda peduli. Meremehkan itu tanda ingin kabur tanpa pamit.
Dan jujur saja, kita semua pernah ingin kabur. Terutama saat lihat harga cabai.
Hidup di negeri ini memang seperti naik angkot: kadang lancar, kadang muter dulu, kadang sopir berhenti mendadak demi penumpang potensial. Tapi anehnya, kita tetap sampai tujuan. Kadang lebih lama, tapi penuh cerita.
Mungkin memang begitu cara karakter ditempa: bukan di jalan tol mulus, tapi di jalan berlubang yang mengajarkan kita memperlambat ego.
Keinginan untuk maju itu baik. Ambisi itu sehat. Tapi ia butuh kesabaran, kerendahan hati, dan keteguhan. Tanpa itu, mimpi hanya jadi caption motivasi yang kita sendiri tidak jalani.
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa besar mimpi kita, tetapi seberapa setia kita bangun pagi dan tetap mencoba.
Dan di sinilah punchline paling jujur dari joke tadi.
Menjadi WNI bukan pilihan sadar yang kita klik “setuju”. Kita lahir, tahu-tahu sudah resmi. Tapi menjadi warga negara yang baik? Itu pilihan harian.
Pilihan untuk jujur.Pilihan untuk tidak nyerobot antrean.Pilihan untuk tidak buang sampah sembarangan sambil mengeluh banjir.
Status kewarganegaraan melekat otomatis. Karakter kewarganegaraan dibangun setiap hari. Jadi kalau ada yang bilang ibadah terpanjang itu jadi WNI, jangan buru-buru tersinggung.
Coba saja hitung:statusnya seumur hidup,ujiannya tiap hari,dan remedialnya tidak tersedia.
Bedanya dengan ibadah ritual, jadi warga negara tidak ada salam penutup. Ia terus berjalan, bahkan saat kita rebahan sambil scroll berita yang bikin emosi lalu tetap bayar pajak tepat waktu.
Maka mungkin benar: Ibadah terpanjang bukan nikah.
Bukan pula puasa.Tapi bertahan mencintai negeri ini dengan waras. Tanpa kehilangan akal sehat,tanpa kehilangan rasa malu, dan tanpa kehilangan arah.
Kalau itu bisa kita jalani sampai tua,selamat. Anda lulus ujian paling panjang bernama: WNI.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

