Nitikan.id,Opini – Pada suatu malam di awal tahun 2000-an, Gus Dur dan Cak Nun duduk santai di beranda sebuah pesantren di Yogyakarta setelah menghadiri acara diskusi kebangsaan. Acara sudah usai, para santri mulai kembali ke asrama, tetapi kedua tokoh ini tetap bercengkerama sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng. Dalam suasana yang santai, obrolan mereka mulai berbelok ke arah situasi politik dan kondisi negara tentu saja dengan gaya khas mereka: humor yang cerdas dan penuh makna.
Gus Dur: “Cak, negara kita ini hebat, lho.”
Cak Nun: “Wah, tumben njenengan muji negara. Apa hebatnya, Gus?”
Gus Dur: “Coba bayangkan, ada negara di mana rakyatnya rajin bayar pajak, tapi pemimpinnya rajin korupsi. Ada negara di mana rakyatnya hidup susah, tapi pejabatnya santai plesiran ke luar negeri.”
Cak Nun: “Luar biasa, Gus. Berarti negara kita ini termasuk negara paling inovatif dalam hal kebalik-balikan logika, ya?”
Gus Dur: “Betul, Cak. Kalau di negara lain, yang pinter jadi pemimpin. Kalau di sini, yang jadi pemimpin malah belajar sambil jalan.”
Cak Nun: “Jadi pemimpin kok kayak anak kecil belajar naik sepeda, ya, Gus? Banyak jatuhnya, tapi nggak mau turun.”
Gus Dur: “Itu karena sepedanya sepeda listrik, Cak. Udah nggak bisa direm, rakyatnya cuma bisa nonton sambil doa.”
Cak Nun: “Lha, kalau gitu, kita harus bikin rakyat cerdas biar bisa milih pemimpin yang bener, Gus!”
Gus Dur: “Nah, itu masalahnya, Cak. Kalau rakyatnya cerdas semua, yang nggak cerdas nggak bakal bisa jadi pemimpin lagi!”
Cak Nun: “Wah, kalau begitu, mungkin itu sebabnya pendidikan di negara ini nggak pernah serius ditingkatkan, ya, Gus?”
Gus Dur: “Bisa jadi, Cak. Makanya, kita harus banyak ngaji, banyak berpikir, dan tentu saja… banyak ketawa biar nggak stres lihat kelakuan pejabat!”
Cak Nun: “Setuju, Gus! Kalau nggak bisa perbaiki negara, minimal jangan sampai negara yang mempermainkan kita.”
Dialog ini tentu hanyalah imajinasi, tetapi menggambarkan bagaimana Gus Dur dan Cak Nun sering menggunakan humor untuk menyampaikan kritik terhadap negara. Dengan cara seperti ini, pesan mereka lebih mudah diterima oleh masyarakat tanpa harus menimbulkan ketegangan.
Malang, 15 Maret 2025
Lanang Mujahidin
Pegiat Rumah baca Kanjuruhan Kepanjen

